Yon Armed 10 Brajamusti Kostrad Gelar Bakti Sosial Bedah Rumah
-->

Advertisement


Yon Armed 10 Brajamusti Kostrad Gelar Bakti Sosial Bedah Rumah

REDAKSI
11 Juli 2020

LKI-CHANNEL , BOGOR

Program Rutilahu di Kabupaten Bogor terus berjalan, tidak hanya dilakukan oleh Pemerintah Daerah, namun elemen lain juga turut membantu dalam menangani Rumah Tidak Layak Huni.


Seperti yang dilakukan oleh TNI Yon Armed 10 Brajamusti Kostrad yang membantu renovasi Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) milik warga Desa Pasir Jambu, Kecamatan Sukaraja , Kabupaten Bogor.

Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) tersebut milik Anih, warga Kampung Kebon Rumput, Desa Pasir Jambu, Sukaraja, Kabupaten Bogor.

Pembedahan rumah tersebut merupakan kegiatan bakti sosial (baksos)  bagi warga yang berada di sekitar lingkungan Yon Armed 10 yang tergolong RTLH sekaligus dalam rangka memperingati HUT Yon Armed 10 Bradjamusti Kostrad ke-58.

Komandan Armed 10, Mayor Arm Danny A. P Girsang S. Sos. M.Han secara langsung mengembalikan kunci rumah kepada ibu Anih sebagai tanda selesainya bedah rumah yang berukuran yang 5×8 meter tersebut.

“Hari ini kami mengembalikan kunci rumah kepada ibu Anih karena rumah beliau yang kita bedah sudah menjadi lebih layak untuk dihuni, bedah rumah ini dikerjakan selama 14 hari dimulai sejak 25 Juni lalu,” ujar Mayor Arm Danny kepada awak media, Sabtu (11/7/20).

Menurut Danny, sebelum dibedah RTLH milih Ibu Anih ini terbilang tidak layak untuk ditinggali karena plafon bambu sudah banyak yang roboh, atap bambu sering bocor dan terutama tidak adanya sekat antar ruangan.

Selain kegiatan bedah rumah, juga dilaksanakan baksos lain yaitu donor darah dari satuan TNI bersama anggota Karang Taruna Desa Sekitar.

“ Kami mengapresiasi dukungan dari dinas terkait seperti Dinsos,  Dinas Perumahan Dan Permukiman Kabupaten Bogor, pihak Desa Pasir Jambu dan seluruh elemen masyarakat, sehingga kegiatan ini terlaksana dengan baik dan lancar ", pungkas Danny.

Sementara itu, ibu Anih merasa sangat bersyukur atas bantuan yang diterimanya, Ia mengatakan kerap merasa khawatir apabila turun hujan karena kuatir rumahnya akan ambruk.

“Saya senang dan  sangat gembira rumah saya akhirnya dibantu direnovasi, soalnya dulu itu kondisinya banyak bocor, kalau hujan kami harus ngungsi ke tetangga", ujarnya.

Anih tinggal bersama satu orang anaknya yang paling kecil karena suaminya sudah meninggal sejak puluhan tahun lalu. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, dirinya bekerja sebagai pembantu rumah tangga dengan penghasilan sekitar Rp 20 ribu per hari.

(Yusdiansah)