LKI-CHANNEL , SUKABUMI
Kondisi Daerah Irigasi (DI) Citepus di Desa Citepus, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, menjadi perhatian setelah dilakukan peninjauan terhadap saluran pengairan yang memasok kebutuhan pertanian warga.
Peninjauan dilakukan untuk melihat langsung kondisi saluran, terutama sejumlah titik yang mengalami kebocoran dan kerusakan. Persoalan tersebut selama beberapa bulan terakhir dikeluhkan petani karena berpengaruh terhadap pasokan air menuju lahan sawah di bagian hilir.
Ketua Pertanian Kelompok Tani (Poktan) Mukti Tani, Dadang, menyampaikan apresiasi atas adanya peninjauan tersebut. Menurutnya, kehadiran pihak terkait di lapangan menjadi langkah penting untuk melihat kondisi irigasi secara langsung.
“Kami tentu menyambut baik adanya survei ini. Petani memang membutuhkan perbaikan irigasi karena air sangat dibutuhkan untuk mengairi sawah,” ujar Dadang, Selasa (29/9/2026).
DI Citepus selama ini menjadi salah satu sumber pengairan bagi lahan pertanian warga. Hampir 50 hektare sawah yang dikelola sekitar 53 petani tergabung dalam Poktan Mukti Tani bergantung pada kelancaran saluran tersebut.
Dadang mengatakan kondisi irigasi mulai menjadi persoalan serius sekitar empat bulan terakhir. Kebocoran di sejumlah titik menyebabkan air yang berasal dari Sungai Citepus tidak optimal mencapai area persawahan.
“Biasanya saat kemarau pun sawah masih bisa produksi. Tahun ini kondisinya berbeda karena banyak kebocoran sehingga petani kesulitan mendapatkan air,” katanya.
Petani sebelumnya telah melakukan berbagai upaya secara swadaya. Terpal dan plastik digunakan untuk menutup sejumlah bagian saluran yang bocor. Warga bahkan mengumpulkan iuran secara sukarela sekitar Rp6 juta untuk membantu penanganan sementara.
Namun, upaya tersebut belum mampu memperbaiki seluruh persoalan. Karena itu, petani berharap hasil peninjauan dapat ditindaklanjuti dengan rehabilitasi saluran.
“Harapan kami secepatnya ada perbaikan. Kalau memang ada pekerjaan, petani siap turun dan bergotong royong karena kami sangat membutuhkan irigasi ini,” tutur Dadang.
Kerusakan Saluran Jadi Bahan Usulan Rehabilitasi
Juru DI Citepus, Saepul Rohman, mengatakan hasil peninjauan menunjukkan adanya sejumlah bagian saluran yang mengalami kerusakan.
Menurut Saepul, wilayah DI Citepus yang menjadi kewenangan UPTD PU Wilayah IV Palabuhanratu Kabupaten Sukabumi memiliki panjang sekitar 3,7 kilometer. Dari hasil pemeriksaan, tingkat kerusakan diperkirakan mencapai sekitar 30 persen.
“Kebocoran banyak sehingga air tidak sampai ke lokasi yang membutuhkan, terutama persawahan,” kata Saepul.
Ia menjelaskan, hasil survei tersebut akan menjadi bahan usulan untuk penanganan lebih lanjut. Rehabilitasi dapat dilakukan pada bagian saluran yang mengalami kebocoran, retak, maupun kerusakan lainnya.
“Pertama dilakukan survei kerusakan. Kemudian diusulkan untuk rehabilitasi, terutama pada bagian yang bocor, retak, dan rusak,” ujarnya.
Meski demikian, Saepul belum dapat memastikan waktu pelaksanaan perbaikan. Usulan penanganan masih menunggu proses realisasi.
Bagi petani, peninjauan tersebut diharapkan menjadi awal dari tindak lanjut nyata. Mereka berharap kondisi DI Citepus segera diperbaiki sehingga pasokan air kembali lancar dan lahan pertanian dapat dimanfaatkan secara optimal.
Ateu Ellah



