DIAR
-->

Advertisement


DIAR

REDAKSI
29 Agustus 2020

LKI-CHANNEL , CERPEN

Tepat  ditengah rumah singgah yang ditempati cuaca pada siang hari terasa sejuk, perbincangan pun mengalir dengan asik dan disaat itu pula rumah terasa lebih berwarna, namun, tetap saja gulungan kasur itu  ada disaat rumah hendak di bersihkan. Tidak, aku bukan hendak menceritakan manusia gulungan kasur itu. 

     
Setengah perjalanan sudah KKN (Kuliah kerja nyata) berjalan namun teman belanja ulun tetap saja orang itu yang pasrah dan terlihat polos.
“aku mau belanja ada yang mau ngantar?” tanya dia kepada temannya termasuk ulun.
“ayo sama ulun aja” sahutku dengan perasaan gak karuan.
Akan sulit menanam Bunga di tanah yang sedang tandus akan tetapi tanah tetaplah tanah dengan segala hala harus di pupuk dan di tanami kembali Bunga baru, itu yang selintas terfikirkan, mengenal nya menjadi sebuah ratapan ambisi keampuhan sejuta trik ini, tapi, sialan! Sudah tiga tahun setengah mereka bersama masih saja lengket. Sejuta trik  mulai terbesit kembali dalam benak tiadalain untuk menarik perhatiannya karena cara ampuh yang efektif adalah dengan membuatnya kagum dan terlihat peduli dengan demikian akan lebih mudah untuk mencuri perhatiannya,  akan sulit menanam Bunga di tanah yang sedang tandus akan tetapi tanah tetaplah tanah dengan segala hala harus di pupuk dan di tanami kembali Bungan baru, itu yang terbesit dalam fikiranku.
Bibit bunga baru sudah ulun punya namun bagaimana bisa menanamnya sedangkan ulun tidak percaya diri dengan pupuk yang ulun punya pada dasarnya pupuk menjadi penentu pula subur dan berhasil tidaknya bunga itu. Senja dan malam menjadi andalanku dalam mengasah pupuk yang aku punya agar harapan bunga indah itu bisa tetap subur walau di tanam di tanah yang sedang tandus, senja datang dan malampun tiba disitulah ulun mulai gunakan strategi ulun untuk melihat kemungkinan hidup dengan dia.

****

Tapi, itulah sedikit cerita ulun sejak pertama kali mengenal Diar.  Ada komitmen yang selalu terjaga dan ada pula senyum yang membalutnya tapi bagaimana mungkin komitmen itu bisa berpindah kepada tangan yang baru karena tak jarang bunga yang layu ketika tak tersiram bahkan terbuang tapi tidak dengan diar bunga yang selalu mekar dan harum. Lama tak bercerita tentangnya membuat tangan ini kaku untuk sekedar menulis cerita indah 3 tahun silam.
Tidak ada nafas yang mau untuk sekedar menghirup Bungan layu dalam taman, setiap senja dan malam tiba ulun selalu berharap pada pupuk yang ulun terus diasah sehingga dapat menumbuhkan kembali bunga di tanah yang tandus, namun, sedemikian ambisinya ulun untuk menumbuhkan bunga itu bukan tanpa alasan yang jelas.
Alasan ulun menyukai Diar, dia bunga yang indah dan karena dia tidak bisa mengucapkan hurup S dengan jelas serasa seluruh huruf  S dia gigit lidahnya ketika mengucapkannya dan selama itu pula akan tetap menjadi alasan aku bertahan dan kembali jarinya yang memutar-mutar seraya dugem dengan rambut menambah pesona kecantikannya.
Selama lidahnya tak pandai mengucapkan S selama itupula pesona kecantikannya terus bertumbuh. Ulun sadar wajah ulun yang segini adanya tak sanggup untuk sekedar menatap diar bunga yang indah nan harum, kehidupan di tempat KKN begitu larut dengan cerita hamper setiap hari, kehidupan dalam bersmaysrakat selalu terjalin sambil ulun tetap memeperhatikannya dengan seksama dan dengan tempo yang sesingkat singkatnya demi kenyamanan hati anak bangsa ini (ulun).
Sebenarnya tidak banyak harapan ulun untuk sekedar disapa oleh senyuman itupun sudah lebih dari cukup.

***

“eh aku mau ke pasar ada yang mau bareng” tanya Diar pada penghuni rumah singgah
“ayo ulun antar aja” jawab ulun.
“iya udah ayo ”
Dan dalam perjalan menuju pasar, disitulah cerita selalu di mulai akan ulun ceritakan pada kisah yang lain. Seperti biasa pupuk yang ulun asah kembali terpakai disaat kesempatan mengantarnya kepasar bisa di katakana ojek pribadi yang cuman berharap di bayar oleh cintanya, wkwkwkw.
Siang hari waktu yang tepat untuk sekedar melamun di rumah itu berbeda dengan ketika senja dating dan waktu hamper malam banyak diantara mereka khususnya para pemuda kampung di tempatku KKN mengajakku pergi menghadiri tabligh akbar yang berada di tempat sekitaran kab. Bandung dan tak jarang aku pulang larut malam menjelang subuh namun itulah cara ulun mengasah pupuk ulun ini.
Sampai pada akhir KKN tiba kita berpisah dengan keadaan haru dan rindu, ulun tak sangka diar bisa suka lawan ulun, tapi, satu bulan terasa sangatlah singkat untuk di kenang dan prosesi menanam Bungan itu agak sedikit terbantu dengan tanah yang sudah mulai subur karena sering ulun pupuk.
Satu tahun kemudian tepat pada tanggal 18 juli diar berulang tahun gelisah dan gak karuan karena ingin sekali menghampiri dan membuat kejutan tapi, apalah daya Bunga ini belum tertanam rapih aku hanya bisa berdoa untuk keadaan nya skrng dan sampai tiba saatnya ulun bisa mengucap selamat ulang tahun dengan hati yang tenang dan dengan Bunga yang sudah subur dan tertanap rapi dan harum.
3 tahun telah berlalu dan tepat di tgl 18 juga dia berulang tahun sempat bingun ingin mempersembahkan apa, akhirnya ucapan adik kembarku dan kaka laki-lakinya mengawali ucapan itu tepat pada jam 12.00 WIB di tanggal 18 juli tersebut. Terbesit rasa ingin sedikit mengabadikan coretan cerita yang melatar belakangi Bungan ini bisa tumbuh dengan harum walau di tanam di tanah yang tandus dan sempat beberapa kali layu dan harum kembali.


***


Tertanam banyak harapan agar tidak cepat layu kembali, diar cukup membantu hidupku dengan ketegarannya walau lika-liku perubahan gayanya sangat membuatku jengkel akan tetapi perlahan menjadi baik dan berubah. Kini tinggalah harapan demi harapan yang selalu terbayang dengan iringan doa agar diar selalu menjadi Bungan yang harum segar dan tidakmudah layu di tengan taman Bungan yang penuh dengan kaktus dan tanaman gurun.
Dari ulun, harap jangan pernah layu dan teruslah menjadi bunga yang selalu segar dan harum di manapun diar hinggap karena hanya rasa yang tak pernah layu bukan asa.

oleh : Muh Irfan Muktapa


BERSAMBUNG …